Segaris Pandang

06 Apr 2016    View : 1342    By : Tsaidun


Ya Robb,

ketika jalan ini meretas ke arah-Mu 

Banyak dan seakan sebuah irama yang harus kutulis

sebuah syair

 

Harap yang ingin kuraih,

gemerisiknya gesekan dahan

Segarnya setiap daun yang luruh dalam buaian embun

Seakan melukis rasa syukur berkepanjangan

 

Segaris Pandang 

 

Seperti sejuknya udara-Mu di pagi hari

Damai, lembut,

hingga mampu membangun setiap senyum

Merekah,

meredam kegalauan dari hati yang banyak terluka

 

Sayang, anugerah yang lebih, karunia yang melimpah

Membangunkan geliat setiap nafsu kehendak hamba

Kesadaran hakiki, pupus, terbunuh kemauan pribadi

Mereka berlomba 

 

Nada tegur-Mu, mereka dengar sebagai ujian

Manakala detak waktu terhenti,

Senyum-Mu, bak uluran kasih lewat kedua tangan

 

 

 

Surabaya

Selasa wage, 15 maret 2016

Tsaidun






Tsaidun

Tsaidun adalah seorang spiritualis yang gemar membaca buku, khususnya psikologi dan filsafat. Pria yang sempat bekerja di salah satu perusahaan internasional ini lahir dan besar di Surabaya.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Prisca Primasari's Love Theft Series - He Who Steal Some Love


Goblin: The Lonely and Great God


Sugar - Maroon 5: Kejutan Manis Di Pesta Pernikahan


Berkuliner Ala Foodtruck Fiesta di Graha Fairground Surabaya Barat


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 1)


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Cheongsam Bunga Teratai Mei Lien


Perjalanan, Pergulatan Waktu