White Collar - Single Perdana Alpha Mortal Foxtrot

01 Feb 2020    View : 291    By : Niratisaya


Alpha Mortal Foxtrot. Nama ini terbilang asing di telinga saya. Namun, ketika saya browsing lebih jauh tentang band aliran alternative-rock ini, ternyata pemain-pemain yang terlibat di dalamnya sudah lama berkecimpung di dunia musik Indonesia. Khususnya Raiden Soedjono (drumer) dan Ricky Putra (gitaris). Dikutip dari musikeras.com, Alpha Mortal Foxtrot terbentuk ketika Raiden dan Ricky mengajak dua orang lain teman mereka yang non-musisi, yaitu Adrian Hardjapamekas (basis) yang sejatinya berprofesi sebagai konsultan bisnis dan Wiku Anindito (vokalis/gitaris) yang bekerja sebagai IP/tech lawyer.

Berbekal ketertarikan saya terhadap formasi Alpha Mortal Foxtrot, saya pun mencoba untuk ngupingin single pertama mereka: "White Collar".

 

Analisis White Collar - Sisifus Berkerah Putih

They say happiness will be everlasting
They say loneliness will come to an end
Is it hard to co-exist to people that you can't resist?
The ending has to be an equal to nothing

They say happiness will be everlasting
They say loneliness will come to an end
Is it hard to co-exist to people that you can't resist?
The ending has to be an equal to nothing

Was it simple melody in our distant memory
Life's a boring journey without any company
9 to 5 is all we have
10 more tasks and we'll survive

Set us free
Set us free
From things we'll never have

They say happiness will be everlasting
They say loneliness will come to an end
Is it hard to co-exist to people that you can't resist?
The ending has to be an equal to nothing

They say happiness will be everlasting
They say loneliness will come to an end
Is it hard to co-exist to people that you can't resist?
The ending has to be an equal to nothing

Artebian pernah mendengar tentang Sisifus? Sisifus adalah raja Kerajaan Efira yang karena kelicikan dan kesombongannya dihukum oleh para dewa. Dia dipaksa mendorong batu besar ke atas bukit. Namun tiap kali dia hampir sampai di atas, batu itu berguling ke bawah ketika Sisifus hampir sampai di puncak. Dia pun terpaksa mengulangi hukumannya ini selamanya.

Namun, ketimbang reputasinya sebagai raja licik yang dihukum, Sisifus lebih dikenal oleh umum sebagai seorang manusia yang dipaksa oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak bukit. Kisah Sisifus pun kemudian kerapdiidentikkan dengan kehidupan manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan di dunia. Bahwa bagaimanapun kita berusaha untuk mendorong diri demi mencapai puncak kehidupan, kita akan kembali tergelincir ke bawah.

Rasa-rasanya, tema inilah yang dibawa oleh Alpha Mortal Foxtrot dalam "White Collar". Dan terwakili jelas oleh lirik:

9 to 5 is all we have
10 more tasks and we'll survive

Layaknya batu dalam kisah Sisifus, "9 to 5" yang merupakan jargon terkenal di kalangan pekerja kantoran dan menjadi kebanggaan mereka, perlahan menjadi beban. Dalam satu hari kita bisa memiliki beberapa tugas yang wajib dirampungkan, dan akan kita geluti lagi di keesokan hari. Selama 5 hari dalam seminggu untuk seumur hidup. Sampai kita memiliki keberanian untuk meninggalkan bukit dan batu yang musti kita dorong hingga puncak.

Di sisi lain, saya mengecap jejak keraguan dalam "White Collar".

They say happiness will be everlasting
They say loneliness will come to an end

Sebagai seorang manusia, jelas sosok dalam lagu ini (para pekerja kerah putih) paham bahwa mereka harus bekerja demi mencapai kebahagiaan yang kata orang akan lebih abadi, dibanding penderitaan yang mereka rasakan selama mereka menjadi pekerja. Bahwa kesepian yang mereka rasakan sepanjang bekerja akan berakhir.

Alpha Mortal Foxtrot

Tapi, pengulangan lirik dalam lagu ini juga mencerminkan keraguan. Wiku seolah mewakili pertanyaan dan keraguan para pekerja kantoran. Apa benar pengorbanan mereka ini akan membawa kebahagiaan sepanjang hidup nantinya? Apa benar kesepian yang berusaha mereka sembunyikan dari sekitar akan berakhir, sementara sehari-hari mereka berjibaku dengan orang-orang yang mereka benci tapi harus hormati.

Bagian akhir bait (the ending has to be an equal to nothing) menandakan bahwa kebahagiaan yang dicapai para pekerja kerah putih ini sepadan dengan kesepian/penderitaan yang mereka tanggung. Apakah lagu ini meninggalkan kesan bahwa kehidupan kita serupa dengan Sisifus, atau malah menyampaikan pesan apa pun pekerjaan kita lakoni, nikmati saja.

Saya merasa Alpha Mortal Foxtrot dan sutradara video musiknya (Rully Worotikan) menekankan hal ini di bagian interlude. Di mana mereka hanya memainkan musik, tanpa lirik ataupun suara di latar belakangnya, dari 0:46 hingga 1:36 sembari memperlihatkan hiruk-pikuk kehidupan di ibukota. Terjebak macet dari berangkat ke kantor hingga pulang ke rumah, senyum sales terukir di wajah yang menyembunyikan sedih dan gundah, hingga kesepian yang terselip di antara keramaian.

Namun, meski at the end of the day we have nothingness, tapi nikmati saja. Karena nggak ada yang sia-sia di dunia ini. Seperti jaring pertemanan anggota Alpha Mortal Foxtrot yang terkesan random, tapi malah berhasil menambah warna di dunia musik Indonesia.

Untuk saya pribadi, menemukan Alpha Mortal Foxtrot dan single pertama mereka ("White Collar") membuat saya semakin optimis bahwa dunia musik Indonesia belum tenggelam dalam lagu-lagu viral dan kubangan karbon kopi band-band terkenal.


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah Co-Founder Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Mari Lari - Sebuah Cerita tentang Tekad Hati Lewat Langkah Kaki


SUPERNOVA: Ksatria, Putri, Dan Bintang Jatuh Film - Filsafat Eksistensi


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik


Terbang Dengan Kursi Mabur Di Sindu Kusuma Edupark


Pasar Seni Lukis Indonesia 2015


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Sajak Orang Rantau