Weird Genius dan Misteri Lathi

15 Jul 2020    View : 142    By : Niratisaya


Setiap hal baiknya dimulai dengan kejujuran. Dan, harus saya katakan dengan jujur, pada awalnya saya anti dengan “Lathi”. Bukan karena lagunya—kuping saya terbuka untuk semua jenis musik. Atau penyanyi dan penciptanya. Saya tidak mengenal baik Sara Fajira atau Weird Genius untuk bisa tidak menyukai mereka. Ke-anti-an saya ini diakibatkan masifnya antusiasme terhadap lagu ini. Diawali oleh TikTok challenge yang diunggah di Twitter, kemudian satu per satu YouTuber membuat video reaksi. Kala itu saya berpikir, saya ingin mendengarkan “Lathi” tapi hanya pada saat antusiasme orang-orang mereda. Ini agar saya tidak ikut terpengaruh pendapat dan antusiasme khalayak luas.

Sampai saya mendengar berita bahwa di negara tetangga “Lathi” dianggap sebagai lagu penyembah setan yang bisa memanggil para makhluk astral.

Pada saat itu saya merasa ada apa sih sama “Lathi”? Kenapa lagu ini sampai membuat resah orang-orang di negara tetangga? Ini sekadar lagu, kan?

Saya pun memutuskan untuk mengulik lagu ini.

 

 

Analisis Lathi - Lagu dan Kontroversi

Musik dan Lirik

Verse I:
I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Bridge:
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turn myself so cold and heartless
But one thing you should know

Chorus:
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi

Verse II:
Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Bridge:
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Never wanted this kind of pain
Turn myself so cold and heartless
But one thing you should know

Chorus:
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi

Beberapa lagu diciptakan dengan musik yang mencuri kuping pendengar atau video yang mencuri perhatian penonton. Beberapa lainnya diciptakan bukan hanya untuk mencuri, tapi meluluhlantakkan semua indra yang kita punya. Inilah yang saya rasakan saat mendengarkan “Lathi”. Weird Genius yang terdiri dari Reza Oktavian, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu tidak main-main saat menggarap lagu ini. Mereka tidak sekadar menciptakan lagu berfondasikan nuance dan vibe asyik, atau memainkan bahasa menggunakan kata-kata berbunga. Sebaliknya, tiap instrumen membangun musik distingtif. Bersama lirik, terbangunlah lagu dengan nuance unik.


(sumber: @weirdgenius_)

Ambil contoh di bagian awal lagu. “Lathi” dibuka dengan instrumen gamelan, sebelum disusul suara sound efek mirip angin berbarengan dengan Sara menyanyikan verse pertama. Bagian ini membangun suasana dalam serta suwung—bak hati wanita yang nggak mudah ditangkap atau ditebak. Khususnya ketika mereka berada dalam situasi yang nggak memungkinkan bagi mereka untuk membagikan unek-unek atau pikiran, yang mengganggu dan membebani jiwa. Sesuai tema yang diwujudkan Weird Genius via video musik mereka. Dan sebagai penikmat Lathi, kita seakan diajak masuk ke dalam suasana suwung hati wanita, diwakili oleh Sara, yang berusaha menceritakan lara dan duka hatinya.

Namun di bagian bridge awal (mulai dari Everything has changed sampai awal lirik It isn’t something we fought for) Weird Genius memilih untuk mengurangi, bahkan cenderung lebih mengutamakan vokal Sara dan pengiring. Seolah mereka membangun mood dan antisipasi pendengar agar makin larut dengan lagu dan cerita dalam lirik. Musik baru kembali bermain di bagian kedua bridge, sebelum memuncak dan petjah di bagian chorus lalu musik kembali seperti di verse 1.

Thumbs up untuk Weird Genius. Mereka mampu meramu “Lathi” dengan baik dan sesuai dengan zamannya, tanpa meninggalkan tradisi. Kalau K-Pop bisa mencampur lirik dalam bahasa Korea dengan bahasa Inggris, kemudian menjadikannya populer, kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Apalagi Indonesia memiliki beragam bahasa daerah dan berbagai instrumen musik tradisional.

Baca juga: Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan

Untuk lirik, bisa dikatakan sebagian besar Artebian pasti paham artinya. Secara keseluruhan, lirik “Lathi” menceritakan tentang seorang perempuan patah hati yang menceritakan kisahnya sekaligus rasa penyesalan atas kisah cintanya. Tapi jika ditelisik baik-baik, bisa jadi “Lathi” bukan hanya menceritakan tentang itu. Melainkan bagaimana perempuan melihat dirinya dan kekuatannya, yang berubah sifat feminin dan penuh kasih.

I was born a fool
Broken all the rules
Seeing all null
Denying all of the truth

Perempuan dikaruniai sifat penuh kasih sayang, merawat apa pun yang dianggapnya bisa diperbaiki atau ditingkatkan kondisinya. Dalam kasus “Lathi” adalah mengubah seorang playboy/bad boy menjadi sosok yang baik dan mampu mengayomi, seperti layaknya sosok lelaki/maskulin seharusnya. Bukan hanya sekali atau dua kali. Ketika hatinya masih legowo dan terbuka, bila perlu perempuan akan melakukannya berkali-kali. Suatu hal yang mungkin dianggap orang yang cenderung ignorant sebagai sikap bodoh. “Kalau sudah tahu pacarnya gitu, ya udah, putusin aja”, ini mungkin reaksi kebanyakan orang ketika melihat seorang perempuan yang keukeuh mempertahankan hubungan toxic-nya.

Mau tidak mau, akhirnya si perempuan (yang diwakili oleh Sara) pun menganggap selama ini rasa kasih dan sifat feminin yang dimilikinya adalah kelemahan. Tapi, apakah akan ada pelajaran jika seseorang tidak berbuat kesalahan? Selain itu, seseorang perlu melihat dan merasakan kebenaran untuk mengambil pelajaran kehidupan. Inilah yang digambarkan oleh bagian pertama bridge:

Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn’t something we fought for

Sementara itu, bagian kedua bridge:

Never wanted this kind of pain
Turn myself so cold and heartless
But one thing you should know

Kemungkinan besar menggambarkan imbas konflik dalam diri dan pergumulan emosi dalam batin si perempuan, yang muncul akibat friksi antara cara pandang si perempuan tentang cinta dan hubungan romantis dengan cara pandang lingkungan sekitarnya. Sehingga alih-alih menerima rasa sakit akibat hubungan toxic-nya dan mengubahnya menjadi kekuatan diri dan pelajaran, si perempuan mengubah rasa sakitnya menjadi benci dan menjadikan dirinya sebagai sosok dingin tanpa kasih—yang berkebalikan dengan sosok sejatinya sebagai perempuan (feminin, penuh kasih dan sayang). Konflik diri dan pergumulan emosi dalam batin ini ditegaskan kembali oleh lirik di verse II:

Pushing through the countless pain
And all I know that this love’s a bless and curse

Namun, saya tidak mengatakan sikap demikian salah. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menemukan karakter dan kekuatannya. Hanya saja, menghabiskan waktu untuk orang lain, meski dengan agenda membalas dendam, sesungguhnya adalah satu hal yang mubazir. Sebab, seperti lirik chorus (Kowe ra iso mlayu saka kesalahan / Ajining diri ana ing lathi), setiap orang bertanggung jawab terhadap sikap dan ucapannya. Dan, kalau Artebian memperhatikan di bagian awal lagu, kita disuguhi gambar Sara berdiri di antara dedaunan kering. Bak sebuah tempat yang tidak terawat, yang bisa jadi hati atau diri Sara (baik secara mental, psikologi, maupun fisik).

Anyhow, bagian chorus ntuk si lelaki, dia bertanggung jawab atas pernyataan cintanya terhadap si perempuan. Bahwa dia berkomitmen untuk mencintai si perempuan dan menerimanya apa adanya. Juga memimpinnya untuk mengarungi bahtera kehidupan hingga maut menjemput. Begitu pula sebaliknya, jika tidak mencintai atau tidak yakin dengan hatinya, jangan mudah mengumbar kata cinta—sehingga cinta bisa memiliki esensinya sebagai faktor yang mampu memutar dan menggerakkan dunia.

Untuk si perempuan, meski kata-kata “Kowe ra iso mlayu saka kesalahan. Ajining diri ana ing lathi” awalnya ditujukan untuk si lelaki, tapi ketika dia membalaskan dendamnya, lingkaran setan dendam terbentuk di sini. Si perempuan juga tidak akan bisa lari dari kesalahannya.

Baca juga: Komedi Kelam tentang Suara-Suara di Kepala Kita

 

Konsep Video Musik Lathi

Nah, dari segi musik dan lirik Artebian bisa melihat kalau “Lathi” sebenarnya tidak ada masalah. Malah cukup ear-catching dan sangat eye-catching kalau boleh saya bilang. Jadi, bisa dibilang di sini kemungkinan besar yang menjadi “masalah” dari lagu ini sehingga bisa membuat resah beberapa pihak adalah dari segi visualnya. Alias konsep video musik pilihan Weird Genius dan krunya.

Dari bagian awal lagu, tidak ada masalah dengan visual video musik “Lathi” yang terlihat normal seperti kebanyakan video musik-musik pada umumnya. Sampai di detik ke-51 memperlihatkan Sara yang seluruh tubuhnya dijerat rantai, berdarah-darah, dan mulai berubah menjadi sosok lain.


(sumber: okezone.com)

Sekilas, sosok Sara di video terlihat seperti tokoh antagonis dalam film Mummy yang dibintangi oleh Tom Cruise. Di mata milenial hal ini mungkin bukan apa-apa, selain sebuah perwakilan penggambaran dendam dan sakit hati berupa sosok tergelap dari diri si wanita. Tapiii… di mata sebagian orang, Sara versi sosok tergelap dalam “Lathi” dianggap sebagai role model negatif. Khususnya ketika dibarengi kata-kata dalam bahasa Jawa dan iringan gamelan.

Gamelan dengan nada slendro dan iringan penyanyi yang nembang memang cenderung berbau mistis dan suwung. Ini lebih karena gamelan (dan suara sinden) ditujukan untuk menggugah diri (Self) manusia, agar lebih dekat dengan spirit Alam dan Tuhan. Sayangnya, minimnya rasa ingin tahu dan pengetahuan terdekat (as in wrapped in a fun and hip stuffs) yang bisa diraih oleh makhluk-makhluk milenial, seperti mereka meraih hape dan menjelajahi akun media sosial, membuat beberapa pihak dengan mudah mengecap suatu hal. Hanya karena sebuah film menggunakan tembang Jawa sebagai instrumen dalam ceritanya.

Kita juga bisa beranggapan bahwa ketika karya bangsa kita mampu menggugah sisi kritis orang lain, kita wajib bangga. Bisa jadi keresahan pihak tersebut muncul karena dia merasa resah, sebab bisa jadi seperti Korea dan kebudayaannya yang menembus budaya negara-negara lain, kita pun sanggup melakukan hal yang sama.

Baca juga: White Collar by Alpha Mortal Foxtrot

 

 

Misteri “Lathi”

Di luar kontroversi "Lathi" dan pandangan beberapa pihak, bisa dikatakan Weird Genius dengan “Lathi” dan hip-nya dalam TikTok challenge berhasil sebagai karya seni. Sebab dia menggugah bukan hanya emosi, tapi juga berbagai rasa dari penontonnya. Terlepas apakah mereka menikmatinya, atau merasa tidak nyaman. Inilah seni sejati. Seandainya ada museum, “Lathi” layak dimasukkan sebagai penanda musik brilian di tahun 2020.

Untuk musik sendiri, saya bisa katakan tidak ada yang sangat istimewa dari "Lathi". Konsep menggabungkan musik modern dengan tradisional juga bukan pertama kali ini. Ada Krakatau Band yang kerap menyelipkan konsep ethnic jazz di musiknya, Kiai Kanjeng dengan gamelan islaminya, V1MAST dan beberapa band atau pemusik lainnya. Hanya saja, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, “Lathi” mewakili musik di zamannya. Ditambah dengan dia berada di waktu dan tempat yang sempurna, maka siapa pun tidak akan bisa mengalihkan pandangan dan pendengaran dari karya Weird Genius ini.

Bravo musik Indonesia!

Bravo anak bangsa Indonesia!

 

Cheers,

N

 

Baca juga: Suckseed, Cerita Musik ala Thailand


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah Co-Founder Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


The Chronicles of Audy - Refleksi Kehidupan Seorang Gadis dalam Outline Skripsi


Cheese In The Trap - Jebakan Si Keju Untuk Sang Tikus


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Bakso Hitam Chok Judes: Ada Lezat Di Balik Pekat


my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


Nasib Literasi di Era Digitalisasi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 1


Kesenyapan Memeluk di Kesendirian