Kerinduan yang Patah

09 Jan 2016    View : 2143    By : Tsaidun


Bentangan merah memanjang terurai seakan menyambutku

Disertai dekapan singgasana tanpa mahkota

Bukanlah sekedar hiasan, seperti anugerahNya

 

Sesungguhnya hidup ini penuh perumpamaan

Seperti bangunan dengan lambang sebuah hati

Menjanjikan asa untuk diraih hingga,

Terbuka lebar kedua tangan untuk menengadah

 

Tertunduk lesu kepala ini karena beban yang terukir

Berharap dari untaian kata membentuk kalimat

Meski dari dalam terselip tanda tanya

 

Kerinduan yang PatahSource of the illustration: here.

Sayang, kekuatan diri tidak mampu membendung fatamorgana.

 

Kenapa tidak seperti mereka peran yang terjalani

Bersenandungkan lagu tentang segenggam intan permata

Teriring syair hidup dalam peluk buaian duniawi

 

Kini kilauan yang kupijak menyerap dingin nadi tapak kakiku

Seakan menyempurnakan mimpi yang kualami

Semakin terdongak dalam ketidaksabaran

Meskipun jarang, selalu kupanggil namaMu

 

Hangatnya semakin luruh dalam nadi hidupku

Menguap, seiring tanggung jawab dari buah cinta yang ada

Tak ubahnya perjalanan waktu, lekat dalam langkah yang lelah

Berbalut keinginan untuk tetap berdiri dalam bergeraknya ego

 

 




Tsaidun

Tsaidun adalah seorang spiritualis yang gemar membaca buku, khususnya psikologi dan filsafat. Pria yang sempat bekerja di salah satu perusahaan internasional ini lahir dan besar di Surabaya.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


1001 Fakta yang Sulit Dipercaya: Mengejutkan Pikiran, Tidak Mungkin, dan Aneh!


Begin Again - Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dan Menjalani Hidup


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Kue Cubit Surabaya - Cubit Gigit Legit


my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Banyu Tibo


Literasi Oktober: GRI Regional Surabaya - Menimbang Buku dalam Resensi


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Cita-Cita Dirgantara


Tertinggal, Tertanggal