Aku Tak Ingin Lomba Balap Karung, Bu.

22 Aug 2016    View : 1986    By : Henny Kustanti


Bentang sawah menguning siap panen tampak memesona

Hamparan putih di pesisir siapkan kristal-kristal garam layaknya berlian

Tambang di jutaan titik tawarkan berkah seakan tanpa henti

Kau bilang itu semua milikku sebagai hadiah sedari lahir

 

Sudah kusiapkan kakiku berlarian di antaranya

Memeluk erat angin yang berhembus hangat tiupkan siulan bambu liar

Mata & bibirku terlahir untuk nyanyikan puja baginya

Inginku tunjukkan pada mereka sinarmu yang akan selalu berpendar

 

Ilustrasi

 

Takkan bisa kau bayangkan betapa terluka hatiku yang memanas amarah

Paksaku berlari dengan karung di kaki serupa penutup mata kuda delman

Tawa mereka lepas berpikir ku lucu terpaksa melompat napasku terengah

Saudaraku yang hidup dalam gelap menolak pengetahuan, bisakah kumaafkan?

 

Lihat Ibu, anak-anakmu bagai ditusuk hidungnya hanya untuk penuhi hasrat tuannya

Mimpi pun menguap menjelma robot monokrom dengan remote control

Menari-nari gila, tertawa lepas tak peduli, lalu menangis sejadi-jadinya

Di atas kebutaan permanen atas hakikat merdeka yang kini terdengar naif dan konyol

 

Mereka hanya tak tahu kau sedang melatihku bermimpi

Mereka tak ingin tahu lilinku satu akan cukup terangkan

Diam mulutku sama sekali tak wakili jiwaku mengaum pasti

Pertiwiku akan kembali merengkuh damai yang tak berlebihan

 

 

Henny Kustanti

20 Agustus 2016




Henny Kustanti

Henny Kustanti adalah seorang ibu rumah tangga yang menyaru sebagai Youtuber paruh waktu, sekaligus foodie alim.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


The Chronicles Of Audy 4/4


Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru


Lembah Rolak


Candi Minak Jinggo - Candi Kecil nan Istimewa di Trowulan


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 3


Kesenyapan Memeluk di Kesendirian