Traveling: Mimpi, Destinasi, Tujuan, Makna

31 May 2015    View : 6863    By : Nadia Sabila


 Traveling, trip, mbolang, dan segala ungkapan yang pada intinya adalah jalan-jalan, sedang nge-tren di kalangan pemuda Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini. Entah siapa yang memulai, begitu banyak buku dan acara televisi yang menguak tentang serunya sebuah perjalanan serta "surga-surga" dunia yang masih tersembunyi, baik di dalam maupun luar negeri, seolah menjadi undangan umum bagi semua kalangan untuk mengunjunginya.

Di Indonesia saat ini, aktivitas penjelajahan wisata alam kian digandrungi. Hobi mendaki gunung mendadak populer dan menggaet banyak peminat, semakin tinggi dan semakin langka gunung yang didaki, semakin bangga hati ini. Pulau-pulau indah tak berpenghuni satu per satu ditemukan, pantai-pantai perawan pun mulai "diperawani", direnangi, dan diselami. Dan banyak lagi kegiatan penjelajahan yang menguak indahnya negeri ini. Didukung dengan maraknya media sosial, kita bisa dengan mudah mengunggah foto-foto perjalanan tersebut. Buntutnya, terpaculah pula para pemuda untuk turut serta dalam "pameran foto nyata di dunia maya". Bakat-bakat fotografi terpendam pun perlahan-lahan tergali.

fotograferSumber: djarumsuper.com

Positifkah fenomena ini? Tentu! Terutama untuk sektor pariwisata. Bahkan ada sebuah meme di sebuah akun Instagram yang dengan satirnya menulis, "Kasihan, masih muda tahunya cuma jalan-jalan di mal".

Wahai! Menusuk sekali sindirannya. Hehehe..

Walaupun traveling adalah pilihan, yang mana hak asasi kita semua mau melakukannya atau tidak, tapi sindiran itu memang ada benarnya. Indonesia dan dunia ini terlalu indah untuk didiamkan saja. Terlalu sayang untuk melihatnya hanya dari kacamata orang lain, dengan syarat, kita memang mampu secara fisik maupun finansial untuk melakukan sebuah perjalanan.

Alhasil, banyak pemuda yang sukses terkena "racun" traveling (termasuk saya). Tak tahan untuk tidak ikut menjelajah. Terlepas dari niatnya hanya sekedar ikut-ikutan tren atau memang murni ingin melakukan perjalanan, mereka dengan mudahnya menasbihkan diri sebagai seorang traveler. Kaos-kaos bertuliskan "I'm A Traveler" dikenakan dengan bangga. Entah mereka mengerti atau tidak, ada makna yang sangat dalam dibalik sebuah traveling atau perjalanan itu sendiri.

kaos_travelerIlustrasi kaos

 

 

Arti Traveling: Penderitaan

Tahukah Artebianz? Kata "traveling" pada dasarnya sudah mengalami pergeseran makna yang jauh sekali.

Kata "travel" sendiri diperkirakan berasal dari Bahasa Prancis Lama "travailler" yang artinya adalah bekerja keras dengan penuh penderitaan. Menurut kamus Merriam-Webster, di Inggris abad pertengahan, kata "travelen" digunakan untuk mengungkapkan penderitaan dan juga kerja keras. Baru setelah abad 14 kata "travel" digunakan untuk mendeskripsikan sebuah perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan.

Baca juga: Mengajar Itu Layaknya Orang Yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT

 

 

Sejarah Dan Tujuan Traveling

Traveling sendiri memiliki sejarah panjang dengan berbagai tujuan. Tujuan di sini artinya adalah maksud dan hal yang ingin dicapai dari melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan sudah dilakukan oleh manusia sejak jaman pra sejarah, di mana manusia hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan lahan pertanian, yang dikenal dengan istilah nomaden. Bisa dikatakan perjalanan adalah kebutuhan manusia untuk bertahan hidup.

kompas
Adapula perjalanan untuk kebutuhan spiritual, religi, atau peziarahan. Dalam beberapa agama, perjalanan adalah bagian suatu keharusan untuk memperkuat keimanan. Sebagai contoh, Islam mewajibkan umatnya untuk berhaji jika mampu. Dalam agama Budha, Sidharta Gautama juga mengalami masa pengembaraan demi mencapai Pencerahan Sempurna lalu berkelana untuk menyebarkan Dharma dengan penuh kasih.

Tujuan perjalanan untuk berekspansi atau memperluas kekuasaan pun juga ada. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, kita tentu sudah mengetahui bangsa-bangsa lain yang pernah menginjakkan kaki di negeri ini, menempuh perjalanan jauh dari tanah mereka ke Indonesia untuk berdagang dan memperluas daerah kekuasaan.
 
Nah, sedangkan perjalanan dengan tujuan untuk berpariwisata dimulai dari Yunani. Menurut catatan dari Dosen Unair, Dr.Sri Endah Nurhidayati, dahulu kala pariwisata merupakan hak khusus orang-orang borjuis saja serta sebagai bagian dari fasilitas eksklusif yang memebedakan dengan orang miskin/rakyat jelata. Pada saat itu di Yunani  sudah dibangun resor untuk bersantai di luar kota atau sepanjang garis pantai. Beberapa obyek yang terkenal saat itu antara lain Kota Dephne yang  terkenal dengan sumber air panas dan Balae yaitu suatu kawasan pantai yang mewah. Begitupula pada zaman kekaisaran Romawi, sudah ada obyek wisata (Colosseum/Forum), di mana kala itu wisatawan dapat menikmati keindahannya, pertunjukan yang digelar di dalamnya.

colosseumColosseum - Italia

 


Destinasi Traveling

Well, satu hal yang membuat saya tergelitik untuk menulis tentang topik traveling ini adalah perdebatan mengenai destinasi wisata yang terjadi antara saya dan sejumlah kawan di grup obrolan beberapa waktu lalu. Seorang kawan mengajak untuk ber-backpacker ria ke luar negeri, sedangkan kawan yang lain menolak dengan alasan "negeri sendiri saja belum habis dijelajahi".

Mengamati perdebatan mereka, saya mengatakan bahwa destinasi wisata adalah sepenuhnya selera dan impian. Masing-masing individu mempunyai kota impiannya masing-masing. Jika memang tidak tertarik dengan destinasi yang ditawarkan, tolak saja.

 

 

Indonesia Sudah Indah, Luar Negeri Gaya-Gayaan Saja

Contohnya, teman saya si A yang gemar sekali pasang status akan kecanduannya pada traveling, mendaki gunung, dan menjelajah alam. Foto-foto display picture tentang "kegilaannya" akan menjelajah alam ia ganti sehari 3 kali seperti minum obat. Sedangkan destinasi traveling si A ini belum jauh-jauh dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali.

destinasi

Lain dengan Si B. Ia jarang memposting foto jalan-jalan, tak pernah juga menggembar-gemborkan kegemarannya bertualang. Tetapi sekalinya si A jalan-jalan, ia langsung memenuhi lini masa ak