Kabut Rindu

26 May 2016    View : 2941    By : Rizal Firmansyah


Ruangan ini berkabut pekat, sangat pekat. Beberapa lusin kursi dan meja tampak tenggelam oleh kabut yang seakan rakus menelan apa pun yang ada di wilayahnya. Entah dari mana kabut ini datang. Begitu wangi, begitu tebal, begitu sangat memaksa pikiranku mengingat kembali kabut apakah ini sebenarnya.

Seingatku memang sudah lama. Sejak hari lepas pisah siswa angkatanku waktu itu, pun berlangsung di ruang auditorium yang kami tempati untuk acara reuni saat ini. Lima belas tahun yang lalu. Ya, saat di mana kami melepas bertumpuk kenangan dan banyak lagi hal ihwal yang kita semua telah bersumpah akan merindukannya.

Kini, kira-kira seperempat jam yang lalu, aku tiba di sini sebagai peserta reuni, dan kau menyambutku di ambang pintu. Mona. Aku sudah menyangka kau akan tetap cantik meski sudah beranak dua. Dan yang lebih mencekik hati, senyummu itu. Ah, sayang aku telah beristri dan sudah memiliki Roni, putra sematawayangku karena setelah itu Dyah istriku tak bisa hamil lagi.

Mengingat Dyah, aku semakin takut menatap keningmu. O... keningmu sangat persis dengan kening Dyah. Samar-samar, ada garis memanjang ke bawah seperti membelah dahimu, di atasnya rambut-rambut tipis tumbuh mengambang. Keningmu itulah yang pernah kukecup ketika kita merajut benang-benang cinta dulu. Tapi itu dulu. Kini aku memandangimu saja dari tempat dudukku. Melihatmu berseliweran ke sana kemari.

Lalu sejenak kau menoleh padaku, tersenyum. Aku hanya mengangguk pelan. Tapi kau malah berjalan ke arahku. Astaga, apa kau mengira aku memanggilmu dengan isyarat anggukan tadi?

Oh Gusti! Harus apa aku? Aku pasti kelimpungan jika berdekatan dengan mantan kekasih yang puluhan tahun tak pernah bertemu. Apa lagi dia sudah bersuami, dan aku pun sudah beristri. Apa yang harus kami bicarakan? Apa yang harus kukatakan? Menanyakan kabar; basi. Berbasa-basi tentang keluarganya; lebih basi. Aku sama sekali tidak menyediakan topik di kepalaku.

“Pak dosen. Halo, pak dosen. Kok melamun?” Tiba-tiba kau sudah berada di depanku.

Aku masih terlalu asyik memilah-milah topik yang pas.

“Ah, Mona,” ucapku sekenanya. Lamunanku bubar.

Kau tersenyum, “Iya, ini aku Mona. Masih ingat, kan?”

Tanganmu menarik kursi lalu duduk di depanku. Aku mulai curiga obrolan ini akan lebih lama.

“Aku dengar, saat ini kamu bekerja sebagai dosen, ya?” sergahmu cepat.

“I... iya. Aku sekarang mengajar di... di sebuah universitas di kota ini.”

Ampun, suaraku jadi terputus-putus karena terus menatap wajahmu. Tapi mau bagaimana lagi, kau berada tepat di depan mataku. Jika kualihkan pandangan, aku takut kau sadar kecanggunganku. Tidak, pantang laki-laki terlihat canggung di depan mantan.

“Wah, selamat ya. Kamu memang pantas menjadi dosen. Kamu cerdas, cocok juga dipanggil Pak Dosen,” katamu sambil menyalamiku. Tanganmu dingin. Tanganku juga sebenarnya. Aku tahu ini hanya basa-basimu.

Beberapa jenak kemudian kita sama-sama tertunduk. Diam. Tapi tidak benar-benar diam. Jari-jarimu mengetuk-ngetuk meja. Beberapa kali kau menoleh ke arah jam tanganmu. Mungkin kau bosan dengan pembicaraan ini. Padahal kita sama-sama telah dewasa. Seharusnya pembicaraan kita mengalir begitu saja seiring pengalaman hidup yang kita miliki selama berpisah.

couple

Aku edarkan mataku ke sekeliling. Semuanya tampak asyik dengan obrolannya. Aku iri dengan teman-teman yang lain. Mereka riuh seperti pasar burung. Sedang kita, hanya dua manusia yang kewarasannya terenggut kenangan.

“Pak Dosen, kamu pasti ingat Faisal. Itu yang duduk di pojok.” Tiba-tiba saja kau membuka obrolan lagi, kali ini dengan menunjuk seorang teman.

“Iya, aku ingat. Dia dulu suka main kartu di dalam kelas, kan?”

“Iya betul. Dia selalu kalah dari si Gundul Joni itu.” Lagi-lagi telunjukmu menegang ke arah seseorang.

“Lalu, lalu, ingat tidak, si Joni punya kebiasaan tidur saat pelajaran?” lanjutmu lebih antusias. Mataku kian lekat menatapmu. Suasana yang seperti ini membuatku betah berlama-lama.

Lalu kita pun tenggelam dalam sebuah pembicaraan seru. Tapi mungkin lebih tepat disebut membicarakan orang lain. Kita membicarakan semua orang yang ada di ruangan ini tanpa kecuali. Dari kebiasaan buruk mereka ketika di sekolah, pengalaman-pengalaman konyol, dan lain sebagainya. Kita tertawa lepas seperti tidak ada seorang pun yang melihat kita. Sangat menyenangkan. Sampai-sampai aku baru menyadari, kabut di ruangan ini semakin pekat dan semakin tinggi, menelan leherku.

Semakin lama ruangan ini pun berubah kelam. Kita mulai tertelan. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Hanya kabut. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya kau pun melihatnya. Tapi kau malah tersenyum melihatku tenggelam di dalamnya.

Aku mencoba berteriak, t