Dua Windu Lalu, Lewat Hening Malam

30 Oct 2016    View : 1730    By : Niratisaya


Dua windu yang lalu aku menerbangkan rindu bersama kenanganmu
Lewat hening malam
dan riuh kendaraan

Namun kau membalasnya dengan bisu.

Entah karena jalanan yang kita lewati bersisipan,
atau karena ruang kita tak lagi
bersebelahan.

Saat aku berada di rangkum malam
Kau bergumul dengan peluh di siang
Ketika aku mengusap penat di bawah mentari
Dalam gelung malam kau menyesap anggur,
entah berdua,
entah sendiri.

Aku takkan pernah tahu
Kau takkan lagi berbagi denganku.

Gumam senyap ini ada
Mungkin karena kita lihat mulai berlainan, dan
mereka yang kita temui tak sama
Kau pun perlahan
tak lagi paham bahasa cinta
tak lagi mengerti kata rindu.

Ataukah apa yang ada
di antara kita
ada karena kita menyesap cerita
dari lembaran kehidupan dengan bahasa yang berbeda?

Entah.

Lagi-lagi aku bergumul dengan kata itu.

Tak perlu kau kuatir
Aku tak pernah menjadi getir,
karena kita tak mengenal kata "tunggu"
Bahkan, dia tak pernah terlontar di hari itu.

Kini,
sewindu sekali lagi berlalu,
Dan kau kembali
memahami bahasa cinta dan sepatah kata rindu

Biarkan semua waktu yang lalu
tandas
menjadi abu
terbang dan lepas

Sehingga aku berhenti menghitung windu
dan kau
tak perlu lagi coba memahami cinta dan rindu

 

 

 

Your sip of wine,

A drip of coffee in mine.

 

 

Surabaya, 

Niratisaya

(2706301016)


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah Co-Founder Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Malaikat Tak Bersayap


Indah Kurnia, Memimpin Tanpa Kehilangan Identitas Sebagai Wanita


To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?


Billionaire a.k.a Top Secret: Kisah Sukses Seorang Pengusaha Muda




Depot Gresik


Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa


Santosa Stable Horse Riding, Kendal: Berkuda Dan Legenda


Majapahit Travel Fair 2016


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Kabut Rindu


Jalan Setail di Malam Ini