Dua Windu Lalu, Lewat Hening Malam

30 Oct 2016    View : 1138    By : Niratisaya


Dua windu yang lalu aku menerbangkan rindu bersama kenanganmu
Lewat hening malam
dan riuh kendaraan

Namun kau membalasnya dengan bisu.

Entah karena jalanan yang kita lewati bersisipan,
atau karena ruang kita tak lagi
bersebelahan.

Saat aku berada di rangkum malam
Kau bergumul dengan peluh di siang
Ketika aku mengusap penat di bawah mentari
Dalam gelung malam kau menyesap anggur,
entah berdua,
entah sendiri.

Aku takkan pernah tahu
Kau takkan lagi berbagi denganku.

Gumam senyap ini ada
Mungkin karena kita lihat mulai berlainan, dan
mereka yang kita temui tak sama
Kau pun perlahan
tak lagi paham bahasa cinta
tak lagi mengerti kata rindu.

Ataukah apa yang ada
di antara kita
ada karena kita menyesap cerita
dari lembaran kehidupan dengan bahasa yang berbeda?

Entah.

Lagi-lagi aku bergumul dengan kata itu.

Tak perlu kau kuatir
Aku tak pernah menjadi getir,
karena kita tak mengenal kata "tunggu"
Bahkan, dia tak pernah terlontar di hari itu.

Kini,
sewindu sekali lagi berlalu,
Dan kau kembali
memahami bahasa cinta dan sepatah kata rindu

Biarkan semua waktu yang lalu
tandas
menjadi abu
terbang dan lepas

Sehingga aku berhenti menghitung windu
dan kau
tak perlu lagi coba memahami cinta dan rindu

 

 

 

Your sip of wine,

A drip of coffee in mine.

 

 

Surabaya, 

Niratisaya

(2706301016)


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Bangkok Knockout: Permainan Maut antara Hidup dan Mati


Keep Being You - Isyana Sarasvati


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Kedai Es Krim Zangrandi - Sejak 1930


Jelajah Pantai Pacitan: Pantai Banyu Tibo


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok


Merah Balada