Dalam Sekam Kehidupan

21 Mar 2016    View : 1831    By : Niratisaya


Lama digaulinya keras kehidupan

Bertahun dijadikannya duka sebagai teman

Hingga keberadaan sepi tak lagi berarti

begitu pula kehadiran sendiri,

yang tak kunjung pergi

 

Dalam kosong, diisinya lowong

Sambil merunduk, coba dirajutnya satu wujud hidup

Dipilinnya pelan dan perlahan segala kelembutan yang tak ia rasakan,

juga bahagia dan suka yang berwindu tak menyapanya

Semua, diselipkannya dalam kenangan

yang satu waktu nanti diputarnya ulang

 

Nyaris seabad, ditambatkannya seluruh keras hidup

Lebih dari sembilan dasawarsa, dilabuhkannya seluruh duka

bersama angan akan kelembutan,

serta mimpi tentang bahagia,

ke dalam sekam kehidupan

 

 

 Lamat, dibisikannya….

“Jadilah keras, namun jangan lupa melembut, Nak.

Teriakkan dukamu, dan jangan pernah menelan air matamu

Sekali pun, jangan berharap atas kebahagiaan yang baka.

Karena inilah hidup; ia selalu bersua dengan suka

sembari memeluk duka dan menggamit kerasnya hidup

dalam tipis batinnya.”

 

Lalu, dirundukkannya kembali kepala di tengah sebentuk hidup,

ditisikkannya sekali lagi doa tiap relung kalbu,

dan dijejakkannya di batin, tentang hidupnya yang belum lagi terwujud

 

Di sana, di antara hampa ruang dan hening udara,

digantungkannya asa serta layang harap

pada mereka yang acap kali menohokkan putih dan hitam

ke dalam logikanya

Sementara nyata-nyata dirinya dan mereka paham

Abu-abulah yang mendekap adanya hidup dan kehidupan

 

"Kau belum paham, Nak.

Kau belum paham...."

Dibisikkannya kata itu

sebelum kembali dipandangnya kehidupan

dengan sekulum pahit senyum dan genangan di mata

 

 

 

Niratisaya

Surabaya

290915-210316

 

 

Header's ilustration: maciejdakowicz.com

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah Co-Founder Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 2)


Teacher's Diary (Khid Thueng Withaya) (2014): Penghargaan Guru di Thailand


Gambaran Cinta dalam Potret Sendu Lirik Lagu Eyes, Nose, Lips Versi Tablo


Nikmatnya Sop Buntut di


7 Mal Dan Tempat Nongkrong Dengan Toilet Asyik Di Surabaya


Coban Jahe: Wisata Alam Untuk Mengisi Liburan Singkat


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Mahfud Ikhwan, dan Kambing


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Tujuh)


Kisah Tentang Himawari


Jalan Setail di Malam Ini