Sang Wanita Dan Kuburan Rasa

10 Apr 2015    View : 1455    By : Nadia Sabila


Dua jam menuju tengah malam, sang pria mendekati sang wanita ..

Sang wanita, tidakkah kau kesepian?
Tidak,

Masih hadirkah bayangnya?
Sudah tidak,

Syukurlah, akhirnya
Mengapa?

Aku telah lama terjerat dalam penantian, tidakkah kau merasakannya?
Ya, terkadang,

Baiklah, mari kita mulai.
Belumkah dimulai? Kukira selama ini kau hanya menghentikannya sementara,

Kita mulai lagi, untuk saat ini aku dan kau.
Untuk apa? Aku sudah nyaman dengan kita biasanya.

Sekarang aku ingin lebih dari itu.
Kau memintanya padaku? Kau sudah punya dia.

(Diam). Tak ada dia. Aku sendiri.
(Tertawa) Kau hanya datang padaku ketika kau sedang kecewa padanya.

Aku sungguh-sungguh, aku haus.
Aku kenal kau sudah lama. Kau berkata tak ada dia, agar aku memberimu.

Baiklah, maukah kau menjadi dia untukku?
Sudah kuduga. (Hening lama)

***

Jadi maukah?
Tidak.

Kau menolakku untuk kesekian kalinya.
Karena tingkahmu meminta penolakan.

Bercintalah denganku.
Tidak. Kau dan aku bukan apa-apa.

Tak bisakah tanpa apa-apa?
Tentu tak bisa.

Kau payah.
Terserah.

***

Ayolah. Aku tak bisa terus merayumu.
Aku tak minta dirayu.

Sulit sekali memintamu.
Kau pantang menyerah.

Ayolah, aku membutuhkanmu, kita lakukan layaknya biasa
Bagaimana?

Tak ada cinta, tak ada sayang, tak ada terbawa perasaan.
Jadi kau berpikir aku seperti itu?

Aku suka kau karena seperti itulah kau di mataku.
Kau menghinaku. Bagaimana jika nantinya aku jatuh cinta padamu?

Tidak. Kau tak pernah mencintaiku. Tak akan pernah.
Seyakin itukah kau? (kau kira aku sekaku itu? Lakukanlah dengan lembut sebetulnya aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu)

Aku yakin. Mari kita mulai percintaan ini. Aku butuh kau.
Aku kasihan padamu.

***

Terimakasih. Akhirnya kau mau.
Kini kau sudah tahu, kuharap kau tak akan pernah memintanya lagi.

Aku akan memintanya lagi. Aku belum mendapat cintamu sepenuhnya.
Kau akan mencampakkanku setelah kau dapat sepenuhnya.
Tentu tak begitu.

***

Sang pria pergi. Tampak punggungnya melalui jalan pintas. Sang wanita mengikuti dalam diam tanpa sang pria tahu. Sang wanita menyaksikan, sang pria memadu cinta dengan dia yang lainnya, di jalan pintas.

Dalam benak sang wanita:
Jadi inilah sebabnya. Baiklah aku cukup tahu, kau masih keji seperti dahulu. Datang saat membutuhkan manis, lalu mencampakkan sepahnya. Rasa yang sudah kukubur lama kau gali lagi, tapi tak kau entaskan sepenuhnya dari tanah. Lalu aku pun kembali menguburnya sendiri, tapi kau gali lagi. Selalu begitu. Dan kali ini, akan kukubur selamanya dan jangan pernah lancang menggalinya lagi. Jalan pintas telah menjadi saksiku. Aku putuskan untuk membencimu.


Selamanya.

wanita_kuburan




Puisi Artebia lainnya:




Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Agama dan Tuntutan Masyarakat


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Aku Ingin Tahu #1: Jawaban dari Ratusan Pertanyaan


Hormones The Series Season 1: Realita Remaja Saat Ini (Part 1)


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Depot Gresik


Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya - Perpustakaan Umum Senyaman Perpustakaan Pribadi


Pantai Karanggongso - Pantai Jernih Berpasir Putih Di Teluk Prigi


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Cita-Cita Dirgantara


Hujan Sepasar Kata